
Gunung api melakukan
aktivitasnya mulai kegiatan yang lemah, meningkat ke lebih kuat, sampai
pada suatu waktu mencapai puncaknya yaitu letusan. Namun sebuah gunung
api akhirnya akan berhenti dari kegiatannya. Gunung api seperti ini
biasanya dinyatakan telah mati. Gunung api yang dinyatakan mati bukan
berarti hilang seluruh kegiatannya. Di sini magma dalam periode
pendinginan, masih tetap menunjukkan sisa kegiatannya. Kegiatan itu
sering disebut gejala pasca vulkanis. Pasca vulkanis ini dapat dibedakan
dalam beberapa bentuk gejala antara lain sumber gas, sumber air panas,
sumber air mineral (mahdani), geyser dan terbentuknya sebuah kawah
akibat letusannya.
1. Sumber Gas
Gas yang dikeluarkan bisa
berupa sumber gas belerang (solfatar), sumber gas uap air atau zat
lemas, dan sumber gas asam arang atau disebut mofet. Gas belerang banyak
ditemukan di kepundan gunung api. Sumber uap air (fumarol) yang keluar
dengan tekanan tinggi dikenal sebagai tenaga geotermal. Sumber uap air
ini bisa digunakan untuk pembangkit tenaga listrik, misalnya di Kamojang
Jawa Barat, Dieng Jawa Tengah, dan lain-lain.
Sedangkan gas asam arang
sangat berbahaya karena dapat mematikan mahluk hidup. Sumber gas asam
arang dapat muncul sembarang waktu di kepundan gunung api manapun. Oleh
karena itu biasanya petugas Dinas Pengawasan Gunung Api dari posnya di
sekitar gunung, bisa memantau secara terus menerus kegiatan gunung api
tersebut, sehingga dapat memperingatkan penduduk setempat ketika gunung
mengeluarkan gas beracun tersebut. Namun ada kalanya gas racun ini
keluar secara tiba-tiba , seperti yang terjadi tahun 1979 di kawah
Timbangan dan Nila Dieng Jawa Tengah yang menewaskan sekitar 149 jiwa.
2. Sumber Air Panas
Air tanah berasal dari
hujan yang meresap ke dalam tanah. Begitu pula di gunung api, air hujan
meresap ke dalam bergerak ke bagian yang lebih dalam dan mendekati
batuan yang masih panas (sisa kegiatan vulkanis). Akibatnya air menjadi
panas, bahkan sampai mendidih. Melalui celah-celah batuan di bagian
bawah air itu keluar sebagai mata air panas. Misalnya, sumber air panas
di Garut dan Cianjur Jawa Barat, Baturaden Jawa Tengah, Tretes Jawa
Timur, dan di tempat lainnya.
3. Sumber Air Mineral
Seperti halnya sumber air
panas, sumber air mineral terjadi karena pemanasan air oleh sisa
kegiatan vulkanik. Namun dalam sumber air ini terlarut zat kimia produk
gunung api, sehingga air itu mengandung belerang atau zat kimia lain.
Sumber air mineral ini banyak ditemukan di daerah sekitar gunung api
yang aktif atau yang sudah istirahat, misalnya di Maribaya dan Ciater
sekitar gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat.
4. Geyser
Geyser adalah sumber mata
air panas yang memancar secara berkala. Geyser terjadi karena gas panas
yang asalnya dari batuan magma memanaskan bagian bawah air yang
terdapat dalam celah di dalam bumi. Uap air yang terjadi tidak dapat
mengadakan sirkulasi sampai ke permukaan bumi sehingga terjadilah
akumulasi uap air setempat. Ketika ada jalan keluar ke permukaan bumi
terjadilah pancaran air dengan suhu yang cukup tinggi. Contoh geyser
yang sangat terkenal terdapat di Yellow Stone National Park California
Amerika Serikat.
5. Kawah
Suatu kawah terbentuk akibat adanya letusan
gunung berapi yang sangat kuat sehingga menimbulkan sebagian dari bagian
atas gunung berapi tersebut menghilang dan saat itu terbentuklah sebuah
kawah. Keindahan suatu kawah dapat dimanfaatkan sebagai suatu objek
wisata, contohnya: Kawah Ratu di gunung Tangkuban Parahu, Kawah Ciremai
di gunung Ciremai, dan Kawah Putih di Ciwidey yang terbentuk akibat
letusan gunung Patuha.